Ada satu hal yang selalu membuat saya bersemangat setiap kali kalender memasuki bulan Juli. Sebagai bagian dari tim media sosial Harum Family Center, bulan ini selalu identik dengan persiapan menuju peringatan Hari Anak Nasional (HAN) dan Hari Keluarga Nasional (Harganas). Bagi sebagian orang, acara ini mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Namun, bagi kami yang berada di balik layar, persiapannya dimulai jauh sebelum hari pelaksanaan.
Mulai dari menyusun konsep publikasi, membuat desain media sosial, berkoordinasi dengan panitia, memastikan daftar dokumentasi yang harus diambil, hingga menyiapkan ponsel yang akan digunakan untuk mengunggah konten secara langsung. Semua dilakukan agar setiap momen berharga dapat tersimpan dengan baik dan menginspirasi lebih banyak orang.
Tahun ini terasa lebih spesial. Setelah berminggu-minggu mempersiapkan acara, akhirnya tibalah hari yang sudah lama kami nantikan. Sejak pagi, lokasi acara mulai dipenuhi tawa anak-anak, keluarga yang saling menyapa, serta para peserta workshop dari berbagai LKSA di Kota Malang. Melihat antusiasme mereka satu per satu datang membuat rasa lelah selama proses persiapan seolah terbayarkan. Hari itu, semua kerja keras kami akhirnya menemukan maknanya.
Dibalik Dokumentasi, Ada Tanggung Jawab Besar

Berperan sebagai Tim Dokumentasi di Acara
Namun, sebagai tim media sosial, saya sadar bahwa tugasku bukan sekadar hadir. Saya harus memastikan tidak ada satu pun momen penting yang terlewat.
Ketika anak-anak menampilkan pertunjukan, saya harus berada di depan panggung. Saat workshop dimulai, saya berpindah ke sisi ruangan untuk mengambil sudut terbaik. Ketika Deklarasi Komitmen Keberpihakan dan Transformasi LKSA Kota Malang ditandatangani, saya harus bergerak cepat agar ekspresi para peserta dapat terdokumentasikan. Belum lagi saat harus mengunggah Instagram Stories secara real time agar masyarakat yang tidak hadir tetap bisa mengikuti jalannya acara.
Sejak pagi, mata saya hampir tidak pernah lepas dari layar ponsel. Berkali-kali membuka kamera, memilih foto terbaik, mengedit secara cepat, lalu mengunggahnya ke media sosial. Tanpa saya sadari, beberapa jam berlalu.
Ketika Mata Mulai Memberi Sinyal
Awalnya hanya terasa sedikit tidak nyaman. Saya mengira itu hanya karena terlalu fokus bekerja. Namun, menjelang siang, mata saya mulai memberikan “peringatan”, SEpet.
Tidak lama kemudian muncul rasa PErih, terutama setelah berkali-kali berpindah dari kamera ke layar ponsel. Setiap kali berkedip, rasanya seperti ada yang mengganjal.
Menjelang akhir acara, rasa LElah pada mata semakin terasa. Saya harus berkedip lebih sering agar penglihatan tetap nyaman saat mengambil dokumentasi menggunakan ponsel.
Saat itulah saya benar-benar menyadari bahwa mata SePeLe jangan disepelein. Gejala kecil yang awalnya kuanggap biasa ternyata dapat memengaruhi pekerjaan.
Sebagai seseorang yang bertugas mengabadikan momen, fokus adalah segalanya. Ketika mata mulai tidak nyaman, saya menjadi lebih sering mengecek hasil foto karena khawatir gambarnya kurang tajam. Saya juga membutuhkan waktu lebih lama untuk memilih dan mengedit dokumentasi. Bahkan beberapa kali harus mengusap mata karena terasa semakin kering.
Meski begitu, saya tetap berusaha menyelesaikan seluruh tugas hingga acara berakhir. Saya tidak ingin momen yang sudah dipersiapkan berbulan-bulan justru terlewat hanya karena kondisi mata.
Pulang Membawa Rasa Tidak Nyaman

Sesampainya di rumah, rasa lelah ternyata bukan hanya di kaki dan pundak. Mata saya masih terasa sepet dan perih. Bahkan setelah beristirahat sejenak, rasa tidak nyaman itu belum juga hilang. Saat itulah saya mulai mencari tahu penyebabnya. Dari berbagai informasi yang ada, saya menyadari bahwa apa yang kualami merupakan Gejala Mata Kering, yang sering dialami oleh orang-orang yang terlalu lama menatap layar digital.
Saya hampir kehilangan fokus, bukan karena acaranya membosankan, tetapi karena mata mulai lelah mengikuti setiap momen.
Saya kemudian teringat pada INSTO DRY EYES yang ada di rumah. Setelah menggunakannya sesuai petunjuk pemakaian, mata saya terasa lebih nyaman dan tidak lagi mengganggu aktivitas. Pengalaman sederhana itu membuat saya sadar bahwa kesehatan mata tidak boleh dianggap sepele, apalagi jika pekerjaan menuntut untuk berjam-jam menatap layar.
Sejak saat itu, saya mulai mengubah beberapa kebiasaan agar mata tetap nyaman, terutama ketika harus meliput acara yang berlangsung sepanjang hari.
Belajar Mengenali Gejala Mata Kering
Pengalaman itu mengajarkan bahwa menjaga kesehatan mata sama pentingnya dengan menjaga kualitas dokumentasi. Ada beberapa kebiasaan sederhana yang kini selalu saya lakukan.
Pertama, menerapkan aturan 20-20-20. Setelah menatap layar selama sekitar 20 menit, saya mencoba mengalihkan pandangan ke objek yang berjarak sekitar 20 kaki (sekitar enam meter) selama 20 detik. Cara sederhana ini cukup membantu mengurangi ketegangan pada mata.
Kedua, tidak menunggu sampai mata terasa sangat tidak nyaman. Jika mulai muncul tanda-tanda mata sepet, perih, atau lelah, saya berusaha memberi waktu istirahat sejenak untuk mata.
Ketiga, menjaga tubuh tetap terhidrasi dengan minum air putih yang cukup. Hal ini sering terlupakan ketika sedang sibuk mendokumentasikan acara.
Keempat, mengurangi paparan layar yang tidak perlu setelah pekerjaan selesai agar mata memiliki waktu untuk beristirahat.
Dan yang tidak kalah penting, sejak pengalaman itu saya selalu menyimpan Insto Dry Eyes di dalam tas kerja. Kini, selain membawa power bank, charger, dan perlengkapan dokumentasi lainnya, Insto Dry Eyes juga menjadi salah satu barang yang selalu saya pastikan ikut terbawa ketika harus meliput kegiatan.
Di Balik Setiap Foto, Ada Mata yang Bekerja Keras

edit foto by Gemini
Banyak orang menikmati hasil dokumentasi berupa foto dan video yang diunggah ke media sosial. Namun, mungkin tidak banyak yang melihat proses di baliknya. Ada langkah kaki yang terus berpindah dari satu sudut ke sudut lain, ada layar yang terus ditatap selama berjam-jam, dan ada mata yang bekerja tanpa henti untuk memastikan setiap senyum, pelukan, tepuk tangan, hingga tawa anak-anak dapat tersimpan menjadi kenangan.
Bagi saya, momen Hari Anak Nasional dan Hari Keluarga Nasional bukan sekadar agenda tahunan. Momen ini adalah pengingat bahwa setiap anak berhak memiliki cerita indah yang layak dikenang. Sebagai tim media sosial, saya merasa memiliki tanggung jawab untuk mengabadikan cerita-cerita tersebut agar dapat menginspirasi lebih banyak keluarga.
Karena itulah, saya belajar bahwa menjaga kesehatan mata sama pentingnya dengan menjaga kualitas hasil dokumentasi. Jangan menunggu hingga mata terasa sangat tidak nyaman baru mengambil tindakan. Mata yang mulai SEpet, PErih, dan LElah bisa menjadi sinyal awal yang tidak boleh diabaikan.
Kini setiap kali ada teman sesama content creator, fotografer, admin media sosial, atau siapa pun yang bekerja di depan layar mengeluhkan mata terasa tidak nyaman, saya selalu berbagi pengalaman ini. Bukan untuk menakut-nakuti, tetapi sebagai pengingat bahwa momen penting hanya datang sekali. Mata SePeLe jangan disepelein karena bisa membuat kita kehilangan fokus menikmati maupun mengabadikan momen berharga.
Saya bersyukur hari itu tetap bisa menyelesaikan seluruh dokumentasi dengan baik. Semua foto penting berhasil diabadikan, seluruh rangkaian acara terdokumentasi, dan senyum anak-anak tetap tersimpan menjadi kenangan yang bisa dilihat kembali kapan saja.
Karena pada akhirnya, setiap momen berharga pantas dikenang. Dan untuk bisa menangkap setiap detiknya dengan maksimal, saya ingin memastikan mata tetap nyaman menemani setiap langkah.
Sejak pengalaman itu, bukan hanya power bank yang selalu ada di dalam tasku. Insto Dry Eyes juga menjadi perlengkapan wajib setiap kali saya meliput kegiatan. Karena saya percaya, momen berharga memang tidak bisa diulang.
Maka jangan biarkan mata yang mulai SEpet, PErih, dan LElah membuat kita kehilangan kesempatan untuk menikmatinya maupun mengabadikannya. Bersama #InstoDryEyes, saya ingin terus berkarya dengan mata yang nyaman, mendukung semangat #BebasMataKering, karena #MataSePeLeJanganSepelein.
