Sejak ibu meninggal, hidup saya berubah pelan-pelan, hampir tanpa saya sadari. Salah satu perubahan terbesar adalah: sekarang saya menjadi teman sehari-hari nenek.
Nenek saya sudah berusia 90 tahun. Beliau wanita yang luar biasa—kuat, penuh cerita hidup—tapi kini, di usianya yang sepuh, pikun mulai mengambil sebagian dari dunia beliau.
Awalnya saya kira, menemani nenek akan sederhana. Cuma duduk bareng, ngobrol-ngobrol, mungkin sesekali membantu beliau jalan-jalan di halaman. Tapi kenyataannya… lebih dari itu.
Lupa yang Sering Berulang
Hari-hari saya di rumah sekarang penuh kejadian kecil yang kadang lucu, kadang membuat saya mengelus dada.
Nenek sering lupa. Kadang lupa kalau kompor masih menyala setelah masak air. Kadang lupa kalau keran di kamar mandi dibiarkan terbuka sampai air tandon rumah benar-benar habis.
Di momen-momen seperti itu, saya mulai sadar bahwa mendampingi orang tua yang pikun bukan hanya soal menemani fisik mereka, tapi juga menjaga keselamatan, menjaga rumah tetap aman, bahkan kadang menjaga mereka dari diri mereka sendiri.
Saya pernah panik ketika mencium bau gosong dari dapur. Ternyata, nenek lupa sedang memasak air. Sejak saat itu, saya selalu mengecek dapur secara berkala, bahkan memasang timer untuk mengingatkan diri sendiri.
Saya pun jadi belajar: lebih baik mencegah daripada menyesal.
Makan Lima Kali Sehari
Salah satu kebiasaan baru nenek yang cukup menggemaskan — sekaligus menantang — adalah soal makan.
Nenek sering lupa kalau beliau sudah makan. Bayangkan, baru saja selesai makan nasi lengkap dengan sayur dan lauk, setengah jam kemudian beliau berkata, “Kok belum makan siang, ya?”
Awalnya saya pikir, mungkin ini cuma sesekali. Tapi makin lama makin sering. Ada hari-hari di mana beliau bisa makan sampai lima kali dalam sehari.
Kalau melihat dari sisi kesehatan, tentu ini harus diatur. Saya tidak ingin nenek merasa kekenyangan atau malah jadi tidak sehat karena pola makan berantakan. Maka saya mencari cara: saya mulai mencatat jam makan di papan kecil yang saya tempel di dinding dekat meja makan.
Setiap habis makan, saya tuliskan: “Nenek sudah makan jam 12.00.” Kalau nenek bertanya, saya ajak beliau membaca catatan itu bersama-sama. Kadang berhasil, kadang tidak. Tapi tidak apa-apa, yang penting saya mencoba.
Belajar Menjadi Lebih Sabar
Di perjalanan ini, satu hal yang paling besar saya pelajari adalah: kesabaran.
Karena kunci mendampingi orang pikun bukan cuma perhatian, tapi juga kesabaran yang nyaris tanpa batas.
Ada hari-hari ketika saya merasa lelah, merasa ingin sebentar saja kembali ke dunia saya yang lebih ringan. Tapi kemudian saya melihat wajah nenek — kerutan halus di matanya, tangan yang kini rapuh menggenggam lengan saya saat berjalan — dan hati saya luluh lagi.
Beliau sudah melewati begitu banyak untuk keluarga kami. Kini giliran saya yang menjaga beliau.
Saya belajar untuk tidak membantah saat nenek mulai bercerita hal yang sama untuk ketiga kalinya dalam sehari.
Saya belajar untuk tidak mengeluh saat harus membersihkan dapur karena nenek lupa mematikan air berjam-jam.
Saya belajar untuk menertawakan kejadian kecil, daripada memperbesarnya menjadi kemarahan.
Menyiapkan Rumah yang Aman
Selain soal mental, saya juga mulai melakukan banyak penyesuaian kecil di rumah. Saya memasang kunci di kompor gas, agar nenek tidak bisa menyalakannya sendiri tanpa pengawasan. Saya juga membereskan rumah dari benda-benda kecil atau karpet licin yang bisa membuat nenek terpeleset.
Hal-hal ini kecil, mungkin terlihat sepele. Tapi bagi orang yang pikun, lingkungan yang aman adalah bentuk kasih sayang kita yang paling nyata.
Menghargai Setiap Momen
Kalau ditanya, apakah ini berat? Iya. Tapi lebih dari itu, ini adalah hadiah. Saya diberikan kesempatan untuk lebih dekat dengan nenek. Mendengar kisah hidup beliau. Menyentuh masa lalu keluarga saya lewat ceritanya — meski kadang ceritanya bercampur antara masa kini dan masa lalu.
Cinta Itu Tak Pernah Lupa
Mendampingi orang tua yang pikun mengajarkan saya satu hal penting:
Mereka mungkin lupa banyak hal. Tapi cinta yang kita berikan, rasa aman yang kita tawarkan, itu tetap mereka rasakan, walau tak selalu bisa mereka ungkapkan.
Di dunia nenek saya yang kini penuh kabut, saya ingin menjadi satu titik terang. Dan untuk itu, saya rela berjalan perlahan, bersabar, dan tetap tersenyum — setiap hari.
Karena cinta… tidak pernah benar-benar hilang. Ia tetap tinggal, bahkan ketika kenangan mulai memudar.
