Kehilangan ibu adalah duka yang tak terlukiskan. Saat kepergian beliau, bukan hanya hati yang patah, tapi juga struktur keluarga yang perlahan goyah. Begitu juga yang saya alami. Ibu pergi, meninggalkan rumah yang kini hanya dihuni oleh nenek yang mengalami demensia dan adik saya yang masih kuliah.
Kakak pertama tinggal jauh di Blitar, dan adik ketiga kami, karena satu dan lain hal, tak bisa merawat nenek. Lalu siapa yang bisa mengisi kekosongan itu? Tak lain dan tak bukan, saya—seorang anak perempuan yang juga seorang istri dan ibu dari dua putri.
Diskusi Hati ke Hati dengan Suami

Foto bersama teman-teman di SD Mutu Wajak
Keputusan untuk meninggalkan rumah bukanlah hal yang mudah. Apalagi rumah itu adalah tempat saya membesarkan anak-anak saya, tempat tawa dan tangis kami bertumbuh bersama. Namun, kondisi memaksa saya untuk mempertimbangkan satu hal besar: tinggal bersama adik saya dan merawat nenek yang semakin rentan.
Saya berbicara dengan suami. Kami berdiskusi panjang, mempertimbangkan semua kemungkinan. Dan akhirnya, dengan hatinya yang besar, suami saya berkata, “Kalau itu yang terbaik, saya setuju.”
Anak Bungsu yang Tak Ingin Berpisah
Namun, hati saya kembali remuk ketika anak bungsu saya menyatakan keberatannya. “Aku gak mau jauh dari Bunda,” katanya dengan mata berkaca-kaca. Saya tahu betapa dekatnya dia dengan saya, betapa setiap pagi kami biasa berbagi sarapan dan cerita.
Akhirnya, keputusan besar pun lahir dari percakapan kecil kami. Dia meminta pindah sekolah ke kota Malang, agar tetap bisa bersama saya, meski konsekuensinya adalah meninggalkan kenyamanan lingkungan lama di Kabupaten Malang.

