Pernah suatu hari saya berbeda pendapat dengan saudara ipar.
Ketika itu dia cerita kalau putrinya yang kelas 2 SD ngambek nggak mau masuk sekolah karena diejek temannya.
Lalu, saya kasih saran untuk validasi perasaanya anaknya, mungkin dia sedang sedih. Tapi saudara ipar saya sepertinya kurang setuju dan dia malah bilang ke anaknya bahwa dulu mamanya nggah pernah ngambek jika ada teman yang mengejek. Mamanya (ipar saya) akan melawan jika ada yang mengejek.
Aduh, saya malah kurang setuju dengan sikap ipar saya (nggak papa kan beda pendapat? hehehe). Tapi tenang, sampai sekarang saya masih akur kok dengan dia, wkwkwk.
Menurut saya, ketika perasaan anak terus-menerus diabaikan, diremehkan, atau bahkan dianggap salah, dampaknya tidak hanya dirasakan saat itu juga, tetapi dapat memengaruhi perkembangan emosionalnya hingga dewasa.
Anak belajar memahami dirinya melalui respons orang-orang terdekatnya, terutama orang tua. Jika emosinya tidak pernah divalidasi, anak dapat mengembangkan berbagai kesulitan dalam mengenali, mengekspresikan, dan mengelola perasaannya.
Saya bisa bilang begini karena sejak kecil orang tua saya juga tidak pernah validasi perasaan saya. Saya menyadari kalau orang tua saya tidak paham bagaimana caranya.
Anak Belajar Menekan Emosinya
Berdasarkan informasi yang pernah saya baca, anak yang sering mendengar kalimat seperti “Jangan nangis”, “Kamu lebay”, atau “Tidak usah sedih” akan belajar bahwa menunjukkan emosi adalah sesuatu yang tidak boleh dilakukan.
Akibatnya, mereka cenderung menyimpan perasaan sendiri dan kesulitan mengungkapkan apa yang sebenarnya mereka rasakan. Emosi yang dipendam ini dapat menumpuk dan muncul dalam bentuk ledakan kemarahan, perilaku agresif, atau bahkan masalah kesehatan mental di kemudian hari.
Saya menyesal karena pernah melakukannya pada anak pertama. Mungkin inilah mengapa ada yang menyebutkan bahwa anak sulung seperti kelinci percobaan.
Yup, ketika si sulung masih kecil saya sering bilang “jangan nangis” “gitu aja nangis, cemen” “kamu lebay” dan kalimat lain yang seolah melarang anak saya untuk menunjukkan emosinya, huhuhu, kalau ingat itu saya jadi sedih.
Hasilnya, ketika anak saya di MTs (waktu itu tinggal di Mahad) dia kurang bisa mengungkapkan emosinya. Dia tiba-tiba menangis dan nggak tahu bahwa dia sedang sedih. Ceritanya panjang, jadi akan saya ceritakan pada postingan terpisah.
Awalnya anak sulung saya juga nggak pernah membantah kata-kata saya. Jika saya marah, dia akan diam lalu masuk kamar dan menangis. Hingga saya sadar jika dia memendam emosi. Alhamdulillah saya segera sadar dan mengajaknya ngobrol. Sekarang kalau sedih dia akan menangis dan saya akan memeluknya.
Sulit Mengenali dan Memahami Perasaan Sendiri
Validasi membantu anak memberi nama pada emosinya. Tanpa validasi, anak mungkin tumbuh tanpa memahami perbedaan antara sedih, kecewa, marah, atau cemas.
Ketika dewasa, mereka bisa merasa bingung dengan apa yang sedang dirasakan dan kesulitan mengelola stres atau konflik dalam kehidupan sehari-hari.
Menurunkan Kepercayaan Diri
Jika setiap kali anak mengungkapkan perasaan mereka justru ditolak atau diremehkan, anak dapat mulai berpikir:
- “Perasaanku tidak penting.”
- “Aku terlalu sensitif.”
- “Ada yang salah dengan diriku.”
Pola pikir seperti ini dapat mengikis harga diri dan membuat anak kurang percaya pada dirinya sendiri.
Anak Menjadi Takut Terbuka kepada Orang Tua
Ketika anak merasa tidak didengarkan, mereka akan berhenti bercerita. Mereka mungkin memilih menyimpan masalah sendiri karena merasa orang tua tidak akan memahami atau menerima apa yang mereka rasakan.
Akibatnya, hubungan emosional antara orang tua dan anak menjadi renggang, bahkan ketika anak memasuki masa remaja yang justru membutuhkan dukungan lebih besar.
Kesulitan Mengelola Emosi
Anak tidak lahir dengan kemampuan mengatur emosi. Mereka belajar dari interaksi dengan orang dewasa di sekitarnya.
Jika orang tua tidak membantu memahami emosi yang muncul, anak berisiko:
- Mudah tantrum.
- Cepat marah.
- Sulit menghadapi kekecewaan.
- Sulit menenangkan diri saat stres.
Karena mereka tidak pernah diajarkan bahwa emosi dapat diterima dan dikelola dengan sehat.
Lebih Rentan Mencari Validasi dari Orang Lain
Anak yang tidak mendapatkan penerimaan emosional di rumah sering kali tumbuh dengan kebutuhan besar untuk mendapatkan pengakuan dari luar.
Mereka bisa menjadi sangat bergantung pada pujian, sulit menerima kritik, atau rela mengorbankan diri demi diterima oleh lingkungan sosialnya.
Berisiko Mengulangi Pola yang Sama
Anak belajar pola pengasuhan dari orang tuanya. Jika mereka tumbuh tanpa validasi emosi, ada kemungkinan mereka akan melakukan hal yang sama kepada anak-anak mereka kelak karena menganggap itulah cara yang normal dalam berinteraksi.
Validasi Bukan Memanjakan
Sebagian orang tua khawatir bahwa memvalidasi emosi akan membuat anak menjadi manja. Padahal, validasi bukan berarti selalu menuruti keinginan anak.
Contohnya:
Alih-alih mengatakan “Tidak boleh sedih. Sudah diam.”
Sebaiknya bilang “Kamu sedih karena tidak boleh membeli mainan itu, ya. Ibu mengerti. Memang kecewa rasanya kalau keinginan kita belum bisa terpenuhi.”
Perasaan anak diterima, tetapi batasan tetap diberikan.
Kesimpulan
Ketika perasaan anak tidak pernah divalidasi, mereka dapat tumbuh dengan kesulitan mengenali emosi, rendah diri, sulit mengelola perasaan, dan kurang dekat dengan orang tua. Sebaliknya, validasi emosi membantu anak merasa aman, dipahami, dan dihargai.
Anak tidak selalu membutuhkan orang tua yang mampu menyelesaikan semua masalahnya. Sering kali, mereka hanya membutuhkan orang tua yang mau mendengarkan dan mengatakan, “Ayah dan Ibu mengerti apa yang kamu rasakan.” Kalimat sederhana itu dapat menjadi fondasi penting bagi kesehatan emosional anak sepanjang hidupnya.
Meski sudah tahu ilmunya, sampai sekarang pun saya masih terus belajar. Pola asuh orang tua tentu saja sangat berpengaruh pada pola asuh saya ketika memiliki anak.
Saya pun masih sering keceplosan mengatakan “udah jangan nangis” yang kemudian ketika sadar saya minta maaf ke anak-anak, hehehe.
Semoga saya bisa menjadi orang tua yang lebih baik lagi dalam membersamai anak-anak, aamiin.
